Cahaya di Balik Retakan: Cerita Patah Hati yang Nggak Ngehancurin, Tapi Ngebentuk

Sumber: Istimewa


SOMANEWS. Hai, guys. Huhu maaf ya enam bulan lamanya tidak menyapa. Emang sok sibuk sih anaknya, hehe. Dari berbagai pengalaman pribadi dan cerita dari sahabat-sahabatku, kali ini aku mau menuliskan sebuah puisi tentang bagaimana kita berani bertumbuh mengikuti cahaya dari reatakan yang mungkin orang lain belum tentu sadar. 

Ya, patah hati itu nggak selalu datang dalam bentuk nangis kejer tengah malam, dan di dramatisasi dengan sunyi malam. Kadang, ia hadir lebih pelan—saat kita ketawa tapi rasanya kosong, saat denger lagu favorit tapi tiba-tiba pengen skip, atau saat sadar kalau orang yang dulu jadi tempat pulang, sekarang cuma nama di daftar chat yang seperlunya aja jalin komunikasi.

Aku pernah ada di fase itu.

Nggak dramatis, tapi berat.

Nggak hancur, tapi retak.

Di usia yang katanya lagi sibuk-sibuknya ngejar mimpi, patah hati justru ngajarin aku buat berhenti sebentar dan menyelami setiap makna sudut dan kalimatnya. Buat nanya ke diri sendiri: “Sebenernya, aku lagi kehilangan dia… atau lagi lupa sama aku sendiri?”

Dari situ aku mulai nulis.

Bukan buat menyalahkan siapa-siapa, tapi buat ngerangkul diri sendiri pelan-pelan. Yang katanya mau self love atas takdir apapun yang terjadi atas kehendak Tuhan YME.

Dan puisi ini lahir dari hati yang pernah jatuh, tapi memilih bangun tanpa dendam. Iyalah, nggak usah dendam sana-sini, karena faktanya itu yang ngebuat diri sendiri rugi.

Aku dulu percaya kalau bahagia harus selalu berbentuk “kita”. Bahwa satu orang bisa jadi rumah, jadi arah pulang, sekaligus alasan bertahan. Tapi hidup pelan-pelan ngasih tahu: kehilangan nggak selalu berarti kalah. Kadang, itu cuma cara semesta ngenalin kita ke versi diri yang lebih kuat. Dan yang paling spesial adalah, ini cara Tuhan ngasih signal kalo kamu lebih berharga dan rasanya keren aja gitu bisa ngelewatin fasenya.

Di tengah proses berdamai sama rasa kehilangan itu, aku menulis puisi ini—sebagai pengingat bahwa hati yang pernah pecah masih bisa disusun ulang. Menjulang tinggi, bahkan meroket pergi ke langit paling atas dengan segala pencapaian baru dari hal-hal baru yang coba. Tapi, tetap dengan prinsip rendah hati, ya, guys. Bukan untuk kembali seperti semula, tapi untuk jadi lebih jujur dan utuh. Ya, selayaknya menghargai diri sendiri aja.

.......................................................................................................................................................................

Cahaya di Balik Retakan

Oleh: Herda Putri Winangrum


Di atas meja kayu yang lama berdebu,

kusiapkan cangkir dengan semangat yang baru.

Meski aroma masa lalu sesekali menyapa,

kini kuseduh harapan, kusematkan pada doa.


Pagi ini langit membuka tabir rahasia,

menghapus sisa kelabu dengan cahaya-Nya.

Aku tak lagi mencari jejakmu yang menjauh,

sebab langkahku kini belajar tegak dan utuh.


Dulu tawamu adalah arah bagiku pulang,

kini kutempa bahagiaku sendiri, perlahan terang.

Dinding kamar tak lagi menjadi saksi pilu,

ia menjelma ruang bebas bagi mimpi-mimpiku.


Tak perlu lagi kuhapus jejak di trotoar itu,

cukup kujadikannya pelajaran yang menempa kalbu.

Masa depan bukan lagi tentang kita berdua,

melainkan aku yang berani membuka jendela.


Jika hatiku pernah pecah menjadi serpihan,

kini kutata ulang menjadi bentuk keindahan.

Luka bukan tanda bahwa aku pernah kalah,

ia bukti aku bertahan meski sempat lelah.


Waktu adalah tabib yang bekerja dalam diam,

mengubah isak menjadi senyum yang matang.

Detik demi detik kini menjelma kawan,

menuntunku keluar dari pekatnya awan.


Mencintaimu adalah bab yang telah kubaca,

kini kututup bukunya tanpa dendam tersisa.

Terima kasih telah mengajarkanku melepaskan,

agar kutemukan diri yang lebih menguatkan.


Biarlah hujan menyapu debu yang tertinggal,

aku berdiri tegak, tak lagi merasa gagal.

Esok adalah lembar bersih yang siap kutulisi,

tentang damai—yang kini bersemi di hati.

.......................................................................................................................................................................

Puisi ini bukan tentang melupakan, tapi tentang menerima. Tentang memahami bahwa nggak semua cerita harus dipertahankan sampai akhir. Ada yang memang hadir hanya untuk mengajarkan cara mencintai, lalu pergi supaya kita bisa belajar melepaskan.

Sekarang aku masih di proses. Masih belajar berdamai, masih jatuh bangun, tapi nggak lagi nyalahin diri sendiri atas sesuatu yang sudah selesai. Aku mulai percaya bahwa patah hati bukan tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa hati pernah bekerja sepenuh rasa. Kalau kata temenku, Dini Agustiani sih sesederhana 'cinta aku padamu sebebeledagan itu'.

Karena di balik setiap retakan, selalu ada cahaya kecil yang pelan-pelan membentuk kita jadi versi yang lebih kuat. Dan hari ini, aku bisa bilang dengan jujur: aku nggak hancur—aku bertumbuh. Aku yakin, kamu juga bisa ngelewatin patah hatinya. Semangat, ya.

Kalau kamu punya cerita atau bahkan request mau dibuatin tulisan apalagi, boleh komen di bawah atau visit ke akun media sosialku di @hrdaptriw, ya. Ditunggu!


Salam tulisan misna,

24 Desember 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rindu: Momen Sederhana yang Penuh Makna

Ngobrolin Cinta? Cek Ini Menurut Psikologi dan Filsafat!

Awal Tahun, Awal Harapan yang Terwujud