Rindu: Momen Sederhana yang Penuh Makna


(Aku perempuan yang menyadari bahwa dewasa ada tentang renungan.
Pict: Istimewa-10 April 2025)

Dulu, hidup rasanya sederhana. Bangun pagi hanya perlu memikirkan apakah hujan turun agar bisa bermain hujan-hujanan, atau menunggu sore untuk bermain bekel di teras rumah bersama teman-teman. 

Dulu, tawa mengalir tanpa beban, tanpa harus memikirkan “besok makan apa” atau “aku ini sedang ke arah mana”. Aku adalah anak kecil yang tidak tahu betapa rumitnya menjadi dewasa.

Kini aku sudah besar. Seorang perempuan yang dikenal dengan haha-hihi-nya. Lucu, katanya. Ceria, katanya. Tapi siapa sangka di balik senyum dan candaku, ada kepala yang sering dipenuhi renungan dan hati yang sesekali terasa lelah.

Aku menjalani kehidupan ini dengan segenap tawa dan air mata. Perjuangan, pencarian makna, kehilangan, dan bangkit kembali — semua itu mewarnai hidupku hari ini.

Dan di tengah keruwetan hidup dewasa, aku seringkali rindu...

Rindu saat pulang sekolah hanya berarti makan siang dan tidur siang, bukan mengejar deadline atau mengejar validasi.

Rindu saat satu-satunya tangis hanyalah karena rebutan mainan, bukan karena patah hati atau kehilangan arah.

Rindu pada tangan ibu yang menyuapi, pada pelukan ayah yang tak berkata banyak tapi hangatnya terasa lama.

Momen-momen sederhana itu — suara sandal jepit di lantai, nasi goreng buatan ibu saat pagi hujan, main petak umpet sampai magrib — kini menjadi harta karun dalam ingatan.

Semakin aku dewasa, semakin aku menyadari: kebahagiaan bukan selalu tentang pencapaian besar, tapi tentang kenangan kecil yang penuh makna.

Aku tahu aku tak bisa kembali ke masa itu, tapi aku bisa terus menyimpannya sebagai pengingat. Bahwa aku pernah seutuh itu, semurni itu, sesederhana itu. 

Dan mungkin, di tengah hiruk-pikuk kehidupan dewasa ini, aku sedang mencari cara untuk kembali ke diriku yang dulu—yang bahagia hanya karena langit sore sedang jingga.


Salam tulisan misna!

14 April 2025.


Komentar