Sayap Terlipat dalam Puisi Ku

(Gambar: Ilustrasi)

SOMANEWS. Hai, malam ini tepat pada minggu malam, 15 Desember 2024. Aku sedang berada di persimpangan rasa yang sejujurnya tak pernah ingin kupilih. Dalam hatiku ada rindu yang menjelma menjadi tali, mengikatku pada seseorang yang bahkan aku tak yakin memiliki rasa yang sama. Apakah aku hanya sebatas teman, seorang adik kecil yang rewel, atau bahkan siapa aku baginya? Mungkin ada cinta di balik sikapnya yang selalu abu-abu? Heem, aku juga tidak tahu akan hal itu.

Aku punya sayap, aku tahu itu. Sayap yang sanggup membawaku terbang tinggi, melintasi langit mimpi dan kebebasan. Tapi anehnya, aku sendiri yang mengikatnya. Aku takut, takut kehilangan jejaknya, takut terluka lebih dalam. Malam ini, kutuliskan puisi sebagai suara hatiku, semoga dengan setiap kata yang keluar, aku menemukan jalan untuk melepaskan diri dari belenggu ini. 

 

Belenggu Sayap yang Terlipat

By: Herda Putri Winangrum

 

Seorang perempuan, 

bermahkota cinta dan setia di tangan, 

relung hatinya dihuni bayangan, 

seorang pria yang ia dewa-dewakan. 

.

Meski ia tahu, ada hati lain di sisinya, 

sepotong cinta yang berbagi ruang luka, 

namun ia memilih tetap bertahan, 

di pusaran cinta yang membutakan. 

.

Ia perempuan yang mampu terbang tinggi, 

dengan sayap gemilang dan berani, 

namun sayap itu ia lipat sendiri, 

demi tetap tinggal di sarang yang berduri. 

.

Apa ia tak sadar? 

Bahwa dunia memanggilnya lebar, 

bahwa ia lebih besar dari rantai itu, 

lebih indah dari kebohongan yang membelenggu. 

.

Tapi hatinya, oh, hatinya… 

lebih kuat dari logika, 

ia menggenggam api, meski tahu akan terbakar, 

ia memeluk bayang-bayang, meski nyata pun sukar. 

.

Mungkin ia berharap, 

suatu hari lelaki itu tersadar, 

bahwa ia adalah rumah yang sejati, 

bukan persinggahan sesaat di hati saat ini. 

.

Namun hingga hari itu datang, 

perempuan itu tetap diam, 

mencintai dengan luka yang ia rangkai, 

mengorbankan sayapnya, meski bisa meraih langit yang tinggi. 

.

Dan kita yang menyaksikan, 

hanya mampu berharap, 

agar ia tahu, ia tak butuh rantai cinta, 

untuk menjadi dirinya yang luar biasa. 

 

Dan setelah bait demi bait ini kutuliskan, aku merenung dalam keheningan malam. Betapa selama ini aku bertahan dalam jerat yang kubuat sendiri, menaruh seluruh hidupku pada seseorang yang mungkin tak pernah benar-benar menginginkanku. 

Aku sadar, mencintai adalah tentang memberi, tapi ku rasa cinta juga semestinya membebaskan. Tidak mengikat, tidak membelenggu. Kini, mungkin inilah saatnya aku melonggarkan simpul yang telah lama kutarik begitu erat. Kalian bantu support aku dengan doa, bisa kan? Ya, iya. Aku juga bingung dengan rasa yang aku punya untuknya. Huaaaa….

T-tapi terima kasih untuk luka yang mengajariku arti bertahan. Terima kasih untuk malam ini, saat akhirnya aku mencoba belajar mencintai diriku lebih dulu. Sebab aku tahu, di balik sayapku yang terlipat, ada kekuatan besar yang menunggu untuk diterbangkan. 

Dari semua rasa yang aku alami, sedikitpun aku dendam itu tak terpikir. Yang ada, syukur aku panjatkan karena bisa mengenal mu lebih jauh saja aku sudah bahagia. Kamu adalah pahlawan untuk aku di tahun ini. Harapku, kamu bisa jauh lebih bahagia dengan siapa sebenarnya perempuan yang kamu pilih. Bahagiakan dia, dan buat dia bangga karena bisa memenangkan mu ditengah kejamnya dunia cinta.

 

Salam tulisan misna!

Minggu, 15 Desember 2024

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rindu: Momen Sederhana yang Penuh Makna

Ngobrolin Cinta? Cek Ini Menurut Psikologi dan Filsafat!

Awal Tahun, Awal Harapan yang Terwujud