Kebenaranmu di Layar yang Tidak Sengaja Menyala
SOMA NEWS - Tidak semua luka datang dengan suara keras. Sebagian hadir diam-diam, bersembunyi di balik kata “tidak apa-apa” yang kita ucapkan setiap hari.
Ada cinta yang kita perjuangkan dengan seluruh kekuatan yang kita miliki. Kita menjaganya seperti sesuatu yang sakral-dipeluk dengan doa, dirawat dengan kesabaran, dan dipertahankan dengan keyakinan bahwa suatu hari semua perjuangan itu akan bermuara pada kebahagiaan yang dimimpikan.
Namun hidup sering kali memiliki cara yang berbeda untuk mengajarkan kebenaran.
Terkadang Tuhan tidak langsung meruntuhkan sebuah hubungan. Ia hanya membuka sedikit demi sedikit tirai yang selama ini menutup mata kita-hingga akhirnya kita melihat seseorang bukan seperti yang kita harapkan, melainkan seperti apa adanya beliau. Dan dalam konteks "Cinta" ini akan berperang dengan logika.
Tulisan ini bukan tentang menyalahkan siapa pun.
Ini adalah catatan dari seorang perempuan yang pernah dan sedang mencintai dengan sungguh-sungguh, pernah percaya tanpa ragu, dan suatu hari menemukan kenyataan yang mengubah cara pandangnya terhadap cinta, kejujuran, dan dirinya sendiri.
Dan semua itu bermula dari sebuah layar kecil yang tidak sengaja menyala.
*Nama, waktu, dan tempat hanya fiktif. Maaf jika ada kesamaan nama tokoh, latar, dan suasana. Ini hanya sebuah karya tulis yang bermakna.
.......................................................................................................................................................................
Minggu, 1 Maret 2026.
Aku menulis ini bukan karena aku ingin terlihat kuat. Justru karena untuk pertama kalinya aku mengakui bahwa aku pernah selemah ini.
Surat ini bukan hanya untuk kamu, Dimas. Surat ini untuk diriku sendiri-untuk perempuan yang terlalu lama meyakinkan dirinya bahwa cinta bisa menyelamatkan segalanya.
Bukan hasil akhirnya yang ingin aku hormati.
Tapi prosesnya.
Proses ketika aku harus menahan air mata di kamar yang sunyi. Proses ketika aku berpura-pura baik-baik saja di depan orang lain. Proses ketika aku berdiri di depan cermin dan bertanya pada diriku sendiri:
“Apa yang salah dariku?”
Aku benar-benar pernah mencari kesalahanku sendiri.
Aku berharap cermin itu memberi jawaban.
Tapi tidak.
Cermin hanya memantulkan seorang perempuan yang terus mencoba bertahan, bahkan ketika ia mulai lelah mempertahankan sesuatu yang diam-diam sudah retak.
...
Ada malam-malam ketika aku hanya ingin memeluk Ibu.
Ibu adalah satu-satunya orang yang biasanya bisa menghapus air mataku tanpa perlu banyak bertanya. Tapi sekarang Ibu sudah tidak ada di dunia yang sama denganku.
Dan terkadang, kesepian itu terasa sangat nyata.
Aku hanya bisa berharap suatu hari nanti aku akan menjadi ibu yang lebih kuat daripada aku hari ini.
Karena jika suatu hari anakku menangis karena cinta, aku ingin memeluknya dan berkata:
“Jangan pernah mencintai seseorang sampai kamu lupa menjaga dirimu sendiri.”
Kalimat yang dulu tidak pernah ada yang mengatakannya kepadaku.
...
Dimas.
Aku bertemu kamu secara tidak sengaja di awal tahun 2025.
Pertemuan biasa. Percakapan biasa. Tapi entah bagaimana, kamu berubah menjadi seseorang yang sangat berarti dalam hidupku.
Hubungan kita berjalan cepat.
Terlalu cepat.
Tapi aku tidak pernah mencintaimu dengan setengah hati. Aku mencintaimu dengan keyakinan yang sangat serius. Aku benar-benar percaya kamu adalah akhir dari perjalanan panjang cintaku.
Setelah semua kegagalan yang pernah aku alami, aku percaya Tuhan akhirnya mempertemukanku dengan seseorang yang akan berjalan bersamaku sampai rumah terakhir yang bernama pernikahan.
Aku percaya itu.
Dengan seluruh hatiku.
...
Malam ini aku menulis di atas kasur yang pernah kamu ejek.
“Engap, ih. Deket banget sama atap.”
Aku masih ingat cara kamu mengatakannya. Seolah itu hanya candaan kecil.
Di kamar yang sama, aku sekarang duduk sendirian. Ditemani suara kipas angin dan lagu Idgitaf Sedia Aku Sebelum Hujan yang aku putar berkali-kali.
Bukan karena aku ingin mendengarnya.
Tapi karena aku butuh sesuatu untuk menenggelamkan suara tangisku.
Pintu kamar aku kunci rapat.
Karena ada tangis yang terlalu rapuh untuk didengar siapa pun.
...
Selama ini aku selalu memuliakan namamu.
Aku bangga memperkenalkan kamu kepada orang-orang di hidupku. Aku menuliskan namamu dalam karya-karyaku. Aku mengunggah foto kebersamaan kita. Aku bahkan memajang fotomu di kamarku.
Aku tidak pernah malu mencintaimu.
Aku bahkan bersyukur memiliki kamu.
Tapi aku tidak pernah menyangka bahwa di waktu yang sama, kamu sedang menjadi seseorang yang tidak pernah benar-benar aku kenal.
...
Jumat, 27 Februari 2026.
Kamu menjemputku ke Yogyakarta.
Hari itu aku bahagia.
Aku pikir kamu datang karena kamu merindukanku. Aku pikir itu adalah bentuk kesungguhanmu.
Tapi setelah sampai di rumah Mama dan Ayah, kamu hanya menurunkanku lalu pergi lagi bersama teman-temanmu. Kamu lebih memilih memperbaiki pengeras suara mobil daripada beristirahat.
Pukul 23.00 kita sampai di rumah.
Kamu berkata:
“Bobo ya. Nanti aku pulang saat sahur.”
Aku menahan kecewa. Aku mencoba sibuk dengan menulis artikel, mengerjakan tugas, dan berdoa kepada Tuhan agar kamu baik-baik saja.
Aku bahkan berdoa agar hubungan kita tetap dijaga.
Tapi kamu tidak pulang.
Sampai sahur lewat.
Sampai pagi datang.
Sampai akhirnya kamu muncul lagi pukul empat sore, lalu langsung tertidur.
Dan di situlah semuanya terbuka.
...
Telepon genggammu terus berbunyi.
Aku hanya ingin memastikan apakah ada panggilan penting.
Tapi Tuhan rupanya ingin menunjukkan sesuatu yang lebih penting daripada itu.
Di layar kecil itu aku menemukan kebenaran yang tidak pernah kamu ceritakan.
Percakapanmu dengan beberapa perempuan.
Dan salah satunya adalah seseorang bernama Cegil.
Mantan kekasihmu? Mantan PDKT? Atau sejenisnya?
Aku membaca semuanya.
Kata-kata yang dulu pernah kamu katakan kepadaku, ternyata juga kamu katakan kepada orang lain.
Kamu bilang kamu masih menyayanginya.
Kamu bilang kamu tidak bisa melupakannya.
Kamu bahkan mengaku lajang.
Kamu mengajaknya menikah.
Kamu mengirimkan uang. Mengirim makanan. Menemaninya dari jauh. Bahkan mendatanginya ke kota di mana dia tinggal.
Sementara aku di sini-percaya bahwa kamu sedang berjuang untuk masa depan kita.
Lucu sekali rasanya.
Bagaimana seseorang bisa hidup dalam dua kebenaran sekaligus.
...
Yang lebih menyakitkan, aku juga menemukan percakapanmu dengan perempuan lain.
Perhatian.
Panggilan sayang.
Video call.
Transfer uang.
Sementara kepadaku kamu hanya berkata:
“Jangan nambah beban pikiranku.”
Setiap kali aku ingin berbicara, kamu bilang kamu sedang banyak masalah.
Dan aku, seperti orang yang terlalu mencintai, memilih diam dan hanya mendoakanmu.
...
Kamu juga pernah berjanji akan berhenti dari obat-obatan dan minuman tertentu demi aku.
Katamu kamu ingin berubah.
Tapi kenyataannya aku melihat kamu kembali terjerumus.
Dan mungkin lebih dalam dari sebelumnya.
...
Dalam perjalanan pulang dari rumah Mama dan Ayah pada 28 Februari, kamu bahkan berkata kita tidak perlu bertunangan.
Langsung menikah saja.
Aneh sekali.
Bagaimana seseorang bisa berbicara tentang pernikahan dengan satu perempuan, sementara hatinya masih berjalan ke tempat lain.
Di saat yang sama kamu juga mengatakan aku tidak fokus membantu usaha shawarma.
Padahal aku berusaha menyeimbangkan semuanya.
Kuliahku.
Waktuku.
Dukunganku untukmu.
...
Ada satu filosofi yang pernah aku ceritakan kepadamu.
Tentang sepatu.
Bahwa dua orang yang berjalan bersama harus seperti sepasang sepatu: cocok, nyaman, dan menuju tujuan yang sama.
Tapi sekarang aku mulai sadar.
Mungkin kita bukan sepasang sepatu.
Mungkin aku hanya alas kaki yang kamu pakai sementara sebelum kamu menemukan pasangan yang sebenarnya.
...
Dimas.
Aku tidak menulis ini untuk memaksamu.
Aku hanya ingin satu hal yang selama ini tidak pernah benar-benar kamu berikan kepadaku.
Kejujuran.
Jika aku memang tujuanmu, katakan.
Jika kamu ingin berubah, katakan.
Tapi jika hatimu ternyata masih milik orang lain, katakan juga.
Karena pada akhirnya, yang paling menyakitkan dari cinta bukanlah perpisahan.
Melainkan ketika seseorang terus berpura-pura tinggal, padahal hatinya sudah pergi.
Dan malam ini aku akhirnya mengerti satu hal.
Terkadang Tuhan tidak membuka rahasia seseorang untuk menghancurkan kita.
Tapi untuk menyelamatkan kita.
Dari mencintai orang yang tidak pernah benar-benar memilih kita.
Namun aku tetap memilih kamu, Dimas.
Ke depan seperti apa-aku sudah siap.
Semoga Tuhan memberi kebahagiaan untuk kita.

Komentar