Makna Perayaan; Puisi Taman Indah, Kini Di Mana?

 SOMANEWS. Pernah nggak sih, kamu tiba-tiba diam… bukan karena nggak ada yang mau dibicarakan, tapi karena terlalu banyak yang ingin disampaikan, dan semuanya terasa berat?

Aku pernah.
Bahkan sering.

Kadang, kita terlihat baik-baik saja di luar,
tertawa, bercanda, menjalani hari seperti biasa.
Tapi di dalamnya, ada sesuatu yang diam-diam retak.
Nggak bersuara, tapi terasa.

Lucunya, kita belajar jadi kuat tanpa benar-benar diajari caranya.
Belajar menyembuhkan tanpa tahu siapa yang sebenarnya harus memeluk kita lebih dulu.
Diri sendiri… atau orang lain?

Tulisan ini bukan tentang siapa yang paling terluka,
atau siapa yang paling hebat bertahan.
Ini cuma tentang satu hal sederhana,
tentang seseorang yang diam-diam berjuang
untuk tetap utuh… meski berkali-kali runtuh.

.......................................................................................................................................................................

Taman Indah, Kini Di Mana?

Karya: Herda Putri Winangrum


“Luka mana lagi yang tak aku sembuhkan sendiri?”

Kalimat itu mungkin terdengar klise,

seperti pengakuan yang terlalu sering diucap,

namun jarang benar-benar dipahami.


Tapi dari sudut seseorang yang sedang berjuang

menyelamatkan jiwanya sendiri,

ini bukan sekadar kata,

ini adalah bentuk penghargaan.

Tentang mencintai diri, menyayangi diri,

dan berani mengenal diri,

meski prosesnya tak selalu secerah yang dibayangkan.


Waktu, pada akhirnya, mengajarkan banyak hal,

tentang menerima diri,

lebih dari sekadar menunggu validasi

yang seringkali hanya mengoyak harapan.


Aku tak lagi berandai-andai,

sebab angan tak pernah mengubah kenyataan.

Lukisan-lukisan itu kini memudar,

bahkan terkadang kehilangan makna.


Tetesan cuka seakan menyirami taman yang kupunya,

taman yang dulu indah,

laksana istana impian di labuhan cinta.

Jiwaku pernah tersentuh di sana,

hingga akhirnya semua layu,

oleh duri yang tak seharusnya tumbuh.


Aku pernah menyelam dalam-dalam,

mengarungi lautan,

mencari karang yang mungkin bisa

mematahkan benalu di taman itu.

Namun waktu berlalu,

dan aku kembali dengan tangan kosong.


Hancur.

Ya, anganku tercerai-berai.

Perjalanannya terhenti di ujung luka,

mengoyak dunia yang pernah utuh,

menyayat jiwa yang tak kasat mata.


Apa yang dulu terasa indah,

kini seolah tak bersisa.


Hai jiwaku, ragaku, dan seluruh duniaku,

aku memohon keikhlasan dan ridha-Mu.

Dan kepada waktu, aku bersandar,

meminta ia berpihak padaku.


Agar suatu hari nanti,

taman itu kembali menyapa,

dan menghidupkan indah

dalam duniaku… sekali lagi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngobrolin Cinta? Cek Ini Menurut Psikologi dan Filsafat!

Awal Tahun, Awal Harapan yang Terwujud