Makna Perayaan; Puisi Taman Indah, Kini Di Mana?
SOMANEWS. Pernah nggak sih, kamu tiba-tiba diam… bukan karena nggak ada yang mau dibicarakan, tapi karena terlalu banyak yang ingin disampaikan, dan semuanya terasa berat?
.......................................................................................................................................................................
Taman Indah, Kini Di Mana?
Karya: Herda Putri Winangrum
“Luka mana lagi yang tak aku sembuhkan sendiri?”
Kalimat itu mungkin terdengar klise,
seperti pengakuan yang terlalu sering diucap,
namun jarang benar-benar dipahami.
Tapi dari sudut seseorang yang sedang berjuang
menyelamatkan jiwanya sendiri,
ini bukan sekadar kata,
ini adalah bentuk penghargaan.
Tentang mencintai diri, menyayangi diri,
dan berani mengenal diri,
meski prosesnya tak selalu secerah yang dibayangkan.
Waktu, pada akhirnya, mengajarkan banyak hal,
tentang menerima diri,
lebih dari sekadar menunggu validasi
yang seringkali hanya mengoyak harapan.
Aku tak lagi berandai-andai,
Lukisan-lukisan itu kini memudar,
bahkan terkadang kehilangan makna.
Tetesan cuka seakan menyirami taman yang kupunya,
taman yang dulu indah,
laksana istana impian di labuhan cinta.
Jiwaku pernah tersentuh di sana,
hingga akhirnya semua layu,
oleh duri yang tak seharusnya tumbuh.
Aku pernah menyelam dalam-dalam,
mengarungi lautan,
mencari karang yang mungkin bisa
mematahkan benalu di taman itu.
Namun waktu berlalu,
dan aku kembali dengan tangan kosong.
Hancur.
Ya, anganku tercerai-berai.
Perjalanannya terhenti di ujung luka,
mengoyak dunia yang pernah utuh,
menyayat jiwa yang tak kasat mata.
Apa yang dulu terasa indah,
kini seolah tak bersisa.
Hai jiwaku, ragaku, dan seluruh duniaku,
aku memohon keikhlasan dan ridha-Mu.
Dan kepada waktu, aku bersandar,
meminta ia berpihak padaku.
Agar suatu hari nanti,
taman itu kembali menyapa,
dan menghidupkan indah
dalam duniaku… sekali lagi.
Komentar