Puisi: Suara Jiwa yang Tak Pernah Padam
SOMANEWS- Setiap tanggal 21 Maret, dunia merayakan Hari Puisi Sedunia, sebuah penghormatan bagi seni kata yang tak lekang oleh waktu. Puisi bukan sekadar rangkaian kata, tetapi nyawa dari ekspresi yang menggugah jiwa, menyuarakan perasaan terdalam, dan menginspirasi banyak orang.
Lewat puisi, kita menemukan keindahan dalam kesederhanaan, makna dalam keheningan, serta kekuatan dalam setiap bait yang jujur.
Bagiku, puisi adalah refleksi kehidupan—kadang penuh manisnya harapan, kadang getir oleh kenyataan, namun selalu mengalir apa adanya. Di setiap kata yang tertulis, ada kisah yang tersimpan, ada luka yang terobati, dan ada mimpi yang kembali menyala.
Dalam perjalanan hidup, perempuan sering kali dihadapkan pada berbagai rintangan. Namun, di balik setiap tantangan, ada ketangguhan yang terus bersemi dan rasa syukur yang tak pernah padam.
Seperti puisi yang tetap hidup dalam berbagai zaman, perempuan pun terus melangkah dengan kepala tegak, meski badai menerpa dan kail kehidupan menusuk ke dalam. Sebuah puisi bisa menjadi cermin dari kekuatan mereka—teguh, indah, dan tak tergoyahkan.
....
Perempuan Tangguh, Penuh Syukur
Aku adalah ombak yang tak gentar pada karang,
Sekali pecah, aku kembali menerjang.
Aku adalah angin yang berbisik lembut,
Namun bisa berubah menjadi badai yang kuat.
Langkahku berat, tapi aku tak goyah,
Aku jatuh, tapi tak menyerah.
Luka bukan penghalang,
Justru pengingat bahwa aku tetap berjuang.
Dalam tiap tetes air mata, kutemukan makna,
Bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan,
Tapi juga tentang belajar bersyukur,
Dan mencintai diri tanpa ragu.
....
Puisi ini menggambarkan bagaimana perempuan mampu bertahan dalam berbagai kondisi, menghadapi kehidupan dengan keberanian dan hati yang penuh syukur.
Di Hari Puisi Sedunia ini, mari rayakan kata-kata yang menguatkan dan menghargai setiap perjalanan hidup dengan penuh makna. Karena puisi bukan sekadar rangkaian kata, tapi juga suara hati yang tak pernah padam.
Salam tulisan misna!
21 Maret 2025
Komentar